Ba’a, Pojoknalar.com — Kegiatan Rote Mengajar Tahun 2026 resmi ditutup dalam acara penuh haru dan inspirasi yang dipusatkan di Lapangan Christian Nehemia Dillak, Ba’a. Penutupan diawali dengan seremoni penyambutan para relawan yang telah mengabdikan diri dalam program “Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi”, yang seluruhnya dibalut dalam semangat Mai Fali E.
Kisah dari Relawan: Cinta yang Tumbuh di Pulau Nusa Lontar
Salah satu relawan terjauh yang datang dari Malaysia mengungkapkan kekagumannya terhadap Pulau Rote. Ia mengaku ini adalah kunjungan pertamanya ke pulau berjuluk Nusa Lontar tersebut, dan langsung jatuh cinta pada alam Rote, anak-anaknya, serta antusiasme masyarakat yang menyambut kegiatan ini dengan penuh perhatian.
Suasana penutupan semakin syahdu dengan penampilan talenta luar biasa dari anak-anak Rote, serta alunan Dawai Sasando yang turut mengiringi jalannya acara sejak pembukaan.
Pesan dan Kesan dari Para Relawan
Dua perwakilan relawan berkesempatan menyampaikan pesan dan kesan mereka:
Ros, mahasiswa Psikologi Universitas Nusa Cendana semester tiga, menyampaikan bahwa setiap anak memiliki potensi dan cita-cita yang perlu terus digali. Soni, relawan asal Jakarta, menyampaikan keyakinannya bahwa suatu saat nanti dunia akan mengenal Rote Ndao lewat generasi emas di bidang pendidikan.
Momen penutupan turut diisi dengan peresmian dua program strategis: Benih Padi Lokal Mandiri — inisiatif Pemerintah Kabupaten Rote Ndao untuk mendukung kemandirian pangan daerah. Permata Mentoring — program pendampingan bagi anak muda untuk berbagi cerita bersama mentor, membantu mereka mengenali potensi diri dan menentukan arah masa depan.
Dalam sambutannya, Bupati Rote Ndao, Paulus Henukh, S.H., memaparkan capaian signifikan di sektor pertanian. Produktivitas padi tercatat meningkat tajam dari 509 ton menjadi lebih dari 1.400 ton, dengan target mencapai 2.000 ton pada akhir tahun. Bupati menegaskan bahwa peningkatan produktivitas ini akan turut mendongkrak perekonomian para petani di Rote Ndao. “Mai Fali E”: Pesan Bupati untuk Generasi Rote
Bupati Paulus Henukh menegaskan bahwa Rote Mengajar akan meninggalkan jejak panjang di Kabupaten Rote Ndao — bahwa anak-anak Rote harus berani bermimpi besar. Panggilan itu, katanya, akan selalu sama: Mai Fali E.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan yang datang dari luar Rote Ndao, yang kini menjadi bagian dari keluarga besar daerah tersebut. Menurutnya, anak-anak Rote Ndao adalah insan utama dari terselenggaranya kegiatan ini, dan harapan besar dari program ini tidak boleh berhenti hanya sampai di sini, melainkan terus menjadi penyala mimpi bagi anak-anak yang telah ditemui — hingga suatu saat nanti mereka kembali pulang ke Rote.
“Bagi seorang anak, satu kalimat dapat mengubah masa depannya. Dari Rote, anak-anak kita harus berani dan tetap mengingat jalan pulang — Mai Fali E. Modal terbesar adalah orang Rote itu sendiri. Melalui Rote Mengajar, satu mimpi melahirkan keberanian dan membangun generasi setelahnya — itulah semangat Rote Mengajar 2026.”
— Paulus Henukh, S.H., Bupati Rote Ndao







